
foto : Kantor Disdukcapil Subang
SUBANG – Di sudut gang Kelurahan Soklat, Kecamatan Subang, jemari terampil itu menari lincah diatas helai- helai daun kelapa muda.Sesekali terdengar deru mesin pemotong kayu kecil dan hembusan angin yang membawa aroma khas janur segar.Di sana,di bengkel kerja sederhana milik perajin janur lokal,perayaan HUT Kabupaten Subang ke-78 bukan sekedar seremoni kalender,melainkan aliran rezeki yang meluap.
Tahun ini, wajah-wajah jalanan protokol Subang tampak lebih berseri. Deretan janur hias yang di deklarasikan dengan bambu melengkung yang megah berdiri tegak di depan kantor-kantor dinas dan instansi pemerintahan. Bagi para perajin ini adalah musim “panen raya”.
” Alhamdulillah, order pembuatan janur melimpah, ” ujar Jajang salah satu perajin janur di Subang, Kamis 2 April 2026.
Sejak memasuki pekan perayaan hari jadi kabupaten, pesanan mengalir tanpa henti. Jajang mengatakan jika pada hari biasa pesanan datang sesekali untuk prosesi pernikahan, kini ia mengaku kewalahan namun bersyukur.
“Pesanan dari dinas dan kantor pemerintahan sangat melimpah tahun ini. Dalam sehari, rata-rata kami mengerjakan 3 hingga 6 penjor,” katanya.
Meningkatnya permintaan ini tentu berdampak langsung pada dapur produksi. Tak hanya soal kuantitas, kreativitas perajin diuji untuk menghasilkan dekorasi yang memikat mata namun tetap sarat makna filosofis.
Bagi masyarakat Subang, janur bukan sekadar hiasan. Ia adalah simbol rasa syukur dan penghormatan. Nilai seni dan kerumitan dalam merangkai janur ini pula yang menentukan harganya.
Berdasarkan pantauan di lapangan, harga yang ditawarkan cukup bervariasi tergantung pada dimensi dan tingkat kerumitan desain.Jajang mengaku untuk janur ukuran kecil dibandrol Rp350 ribu, sementara untuk ukuran sedang bisa mencapai Rp500-750 ribu.
” Ya sepadan lah dengan proses pengerjaan yang membutuhkan ketelitian ekstra,mulai dari pemilihan bambu yang lentur hingga pemilihan daun kelapa,” jelasnya.
Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil ( Disdukcapil ) Kabupaten Subang Dra.Nunung Suryani mengatakan dalam lomba hias gapura tingkat OPD dan kecamatan di HUT Kabupaten Subang yang ke-78, jajaran Disdukcapil menggunakan janur untuk hiasan dekorasi gapura.
“Gapura ini bukan penghalang, melainkan penyambut. Kami ingin masyarakat merasakan akses yang mudah dan transparan. Tidak ada lagi sekat antara pelayan publik dengan masyarakat,” ujar Nunung.”Sentuhan material lokal seperti anyaman bambu dan ornamen tradisional janur menjadi sorotan utama. Penggunaan bambu dan teknik anyaman bukan tanpa alasan, keduanya melambangkan semangat gotong royong dan identitas daerah yang kuat serta membumi,” sambungnya.