Lompat ke konten
logo info aktual subang
Ads.
Home » Lembur Pakuan Subang, Model Revitalisasi Kampung Berbasis Budaya dan Lingkungan di Jawa Barat

Lembur Pakuan Subang, Model Revitalisasi Kampung Berbasis Budaya dan Lingkungan di Jawa Barat

  • oleh

Foto : Lembur Pakuan

SUBANG – Udara segar khas pedesaan menyambut siapa saja yang menginjakkan kaki di Kampung Sukadaya, Desa Sukasari, Kecamatan Dawuan, Kabupaten Subang. Namun, ini bukan sekadar kampung biasa. Wilayah yang kini dikenal sebagai Lembur Pakuan itu bertransformasi menjadi magnet wisata budaya yang tengah hits di Jawa Barat.

Pantauan di lokasi, suasana asri dan bersih menjadi identitas kuat Lembur Pakuan. Tak heran jika setiap harinya ratusan orang datang berkunjung. Bahkan saat akhir pekan atau hari libur, ribuan wisatawan dari berbagai daerah tumpah ruah memadati setiap sudut kampung yang menjadi model revitalisasi berbasis budaya dan lingkungan ini.

Lembur Pakuan menawarkan pengalaman wisata yang komplit. Pengunjung bisa memanjakan mata di Taman Bunisora, menikmati keindahan Taman Campernik, hingga menyelami kearifan lokal di Kampung Seni & Budaya.

Salah satu pengunjung asal Tangerang, Yuni, mengaku takjub dengan perubahan kampung ini. Menurutnya, pemandangan persawahan dan tata ruang kampung sangat memanjakan mata.

“Asri dan sangat menakjubkan pemandangannya,” ujar Yuni, Minggu 12 April 2026.

Ia dan keluarganya pun sengaja menyewa homestay di sekitar lokasi. Tujuannya satu, yaitu berburu spot foto terbaik sekaligus berharap bisa bertemu dengan tokoh di balik kemajuan kampung ini yakni Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.

“Inginnya ketemu Pak Dedi, karena biasanya beliau di TikTok-nya sering joging di areal persawahan ini,” tambahnya sembari tersenyum.

Daya tarik Lembur Pakuan semakin memuncak dengan digelarnya festival budaya bertajuk “Nyuhun Buhun”. Acara yang diinisiasi oleh Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, ini berlangsung meriah sejak Kamis, 9 April 2026.

Sebagai sosok pecinta seni dan budaya, Dedi Mulyadi menyulap Lembur Pakuan menjadi panggung raksasa bagi kesenian tradisional. Berbagai acara digelar secara maraton, mulai dari

Pertunjukan Mantun dan Gemyung.

Karnaval Seni Budaya yang meriah.

Kegiatan sosial sunatan massal, hingga

Perayaan Milad Dedi Mulyadi.

Kehadiran sosok Dedi Mulyadi memang menjadi magnet tersendiri bagi wisatawan. Banyak pengunjung yang rela menempuh perjalanan jauh hanya untuk sekadar berswafoto dengan pria yang identik dengan iket kepala tersebut.

Shinta, salah seorang pengunjung, mengaku sengaja menempuh perjalanan jauh hanya karena ingin melihat langsung aksi sang Gubernur di tengah masyarakat.

“Ingin foto bareng Pak Dedi,” kata Shinta.