
Foto : Kabid P2P Dinkes Subang
SUBANG – Temuan kasus Hantavirus di Jawa Barat memicu respons cepat dari otoritas kesehatan daerah. Meski sejauh ini wilayah Kabupaten Subang masih dinyatakan aman dari virus yang disebarkan oleh hewan pengerat tersebut, warga diminta untuk tidak lengah.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Subang mengimbau seluruh masyarakat untuk memperkuat imunitas tubuh dan memperketat kebersihan lingkungan sebagai langkah antisipasi dini.
“Belum ditemukan di Subang ya. Perkuat imun tubuh,” ujar Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Subang, dr. Indriati Oetama yang akrab disapa dr. Noni saat dikonfirmasi, Rabu 20 Mei 2026.
Noni mengingatkan agar keberadaan tikus di area pemukiman dan dalam rumah tidak dianggap sepele. Pasalnya, hewan pengerat ini merupakan vektor utama penyebaran Hantavirus. Penularan bisa terjadi secara fatal jika manusia digigit, atau secara tidak sengaja menghirup partikel dari kotoran tikus yang terinfeksi.
“Ini harus dipahami, virus itu menyerang saluran pernapasan,” jelas Noni tegas.
Berdasarkan data yang dihimpun, sejauh ini tercatat ada 23 kasus Hantavirus di Indonesia, di mana 5 kasus di antaranya ditemukan di wilayah Jawa Barat. Menanggapi situasi ini, Dinkes Subang meminta masyarakat untuk fokus pada perbaikan sanitasi lingkungan sekitar.
Sebelumnya, lonjakan kasus ini juga memicu kesiapsiagaan di wilayah ibu kota. Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Ani Ruspitawati, mengungkapkan bahwa saat ini ditemukan tiga kasus positif Hantavirus dan enam kasus suspek yang terus dipantau secara ketat.
Langkah cepat telah diambil Dinkes DKI dengan menyebarkan surat kewaspadaan ke seluruh fasilitas kesehatan dan menunjuk sejumlah RSUD sebagai rumah sakit sentinel untuk memonitor potensi kemunculan kasus baru.
“Hantavirus biasanya menyebar melalui tikus, terutama dari kotoran, air liur, atau urine tikus yang mengering lalu bercampur dengan udara dan terhirup manusia,” pungkas Ani.