Lompat ke konten
logo info aktual subang
Ads.
Home » Dolar AS Menguat, Nelayan Subang Keluhkan Harga Perbekalan Melaut Kian Mahal

Dolar AS Menguat, Nelayan Subang Keluhkan Harga Perbekalan Melaut Kian Mahal

  • oleh

foto : Nelayan melaut

SUBANG – Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mulai dirasakan para nelayan di Kabupaten Subang. Kondisi tersebut berdampak pada kenaikan harga berbagai kebutuhan perbekalan yang digunakan saat melaut.

Kepala Bidang Perikanan Tangkap Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Subang, Budi Rakhman, membenarkan adanya keluhan dari nelayan terkait kenaikan harga kebutuhan pokok dan logistik melaut.

“Betul, para nelayan mengeluhkan adanya kenaikan harga-harga perbekalan saat melaut,” ujar Budi, Kamis (18/6/2026).

Menurut Budi, keluhan tersebut datang dari ribuan nelayan, terutama yang menggunakan kapal berukuran di bawah 5 Gross Ton (GT). Kenaikan nilai dolar AS disebut ikut memengaruhi harga sejumlah kebutuhan yang biasa dibawa nelayan selama berada di laut.

“Kenaikan dolar membuat kebutuhan untuk perbekalan jadi mahal, mulai dari minyak goreng, plastik pembungkus hingga roti,” katanya.

Salah seorang nelayan asal Kecamatan Blanakan, Witro, mengaku merasakan langsung dampak kenaikan harga sejumlah kebutuhan tersebut. Salah satu yang paling dikeluhkan adalah harga plastik pembungkus yang mengalami kenaikan cukup signifikan.

Setiap nelayan yang melaut pasti butuh plastik pembungkus. Nah, harganya sekarang sangat mahal,” ujarnya.

Akibat mahalnya harga plastik, Witro mengaku dirinya bersama nelayan lain terpaksa memanfaatkan plastik bekas yang masih layak pakai untuk menekan biaya operasional selama melaut.

“Ya pakai yang masih layak, karena harga plastik mahal,” ucapnya.

Selain plastik, harga minyak goreng juga menjadi beban tambahan bagi para nelayan. Pasalnya, minyak goreng merupakan kebutuhan penting untuk memasak selama berada di tengah laut dalam waktu yang cukup lama.

“Bayangkan kita bisa berminggu-minggu di laut. Untuk memasak tentu harus menggunakan minyak goreng. Ketika harga minyak goreng naik, ya mau bagaimana lagi? Kata siapa dolar tidak masuk desa? Saat melaut juga terasa dampaknya,” ungkap Witro.

Ia berharap pemerintah dapat menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok dan logistik yang digunakan saat melaut agar biaya operasional tidak semakin membebani penghasilan mereka di tengah ketidakpastian kondisi ekonomi.