Lompat ke konten
logo info aktual subang
Ads.
Home » Musim Kemarau Ekstrem,Nasib Petambak Pantura Subang: Terpaksa ‘Gantung Karang’ hingga Akhir Tahun

Musim Kemarau Ekstrem,Nasib Petambak Pantura Subang: Terpaksa ‘Gantung Karang’ hingga Akhir Tahun

  • oleh
Foto : DKP Subang kunjungi Petambak di Blanakan

SUBANG – Musim kemarau ekstrem yang melanda wilayah pesisir utara (Pantura) membawa dampak buruk bagi para petambak air payau. Akibat minimnya pasokan air, tambak di Kecamatan Blanakan, Kabupaten Subang, kini terpaksa berhenti beroperasi atau “gantung karang” hingga akhir tahun 2026.

Sutarno (54), salah seorang petambak asal Desa Muara, Kecamatan Blanakan, mengaku tidak memiliki pilihan lain selain meninggalkan tambaknya. Kekeringan parah membuat pasokan air tawar hilang, sementara air pasang laut pun tidak mampu mengalir ke area tambak.

“Ya mau gimana lagi, kami gantung karang mungkin dari bulan depan hingga akhir tahun nanti. Air payau tidak ada, tambak mengering,” ujar Sutarno,Senin (29/6/2026).

Kondisi ini praktis memutus mata pencaharian utama para petambak. Sutarno mengungkapkan, dalam enam bulan terakhir, ia sempat mengantongi pendapatan sekitar Rp7 juta dari hasil panen udang dan ikan bandeng. Namun, kini ia harus memutar otak agar “dapur tetap mengebul”.

Demi menyambung hidup selama masa sulit ini, Sutarno dan sejumlah rekan petambak lainnya memilih beralih profesi menjadi nelayan musiman.

“Ya jadi nelayan musiman akhirnya, untuk tetap menyambung hidup,” katanya.

Menanggapi keluhan tersebut, Kepala Bidang (Kabid) Perikanan Air Payau Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Subang, Udin Saepudin, membenarkan bahwa pihaknya telah menerima laporan mengenai dampak kemarau ekstrem ini. Pihaknya saat ini tengah melakukan peninjauan langsung ke lapangan untuk memetakan kondisi para petambak.

Udin mengakui bahwa produktivitas ikan dan udang saat ini mustahil dijalankan karena ekosistem air payau yang tidak mendukung. Oleh karena itu, ia memberikan saran agar para petambak mencari alternatif pendapatan sementara selama masa “gantung karang” berlangsung.

“Kami sedang meninjau sekaligus berdiskusi dengan para petambak. Saya menyarankan untuk beralih profesi sementara, misalnya mengolah produk hasil laut atau usaha kerajinan lainnya agar mereka bisa tetap bertahan di tengah kemarau ekstrem ini,” jelas Udin.