Lompat ke konten
Home » Kemarau Ekstrem di Subang: Petambak ‘Gantung Karang’, Harga Bandeng-Udang Melejit!

Kemarau Ekstrem di Subang: Petambak ‘Gantung Karang’, Harga Bandeng-Udang Melejit!

  • oleh
Foto : Penjual Ikan Bandeng di Pasar

SUBANG – Kemarau ekstrem yang melanda Kabupaten Subang memaksa para pembudidaya air payau gigit jari. Akibat tambak yang mengering dan krisis pasokan air payau, mayoritas dari mereka terpaksa “gantung karang” alias berhenti berproduksi.

“Betul mereka tidak beraktivitas (gantung karang), meskipun ada beberapa yang masih terlihat membudidayakan komoditas air payau seperti ikan, kepiting, dan lobster,” ujar Kepala Bidang Perikanan Air Payau Dinas Perikanan dan Kelautan (DKP) Subang, Udin Saepudin, Selasa (14/7/2026).

Demi menyambung hidup dan memastikan dapur tetap mengepul, para petambak terpaksa beralih profesi. Mulai dari menjadi perajin ikan asin hingga alih profesi menarik ojek motor.

Imbas dari mandeknya produktivitas ini langsung dirasakan di pasar. Minimnya ketersediaan komoditas air payau memicu lonjakan harga yang cukup signifikan karena barang menjadi langka.

“Mau bagaimana lagi, harga pasti mengalami kenaikan,” tambah Udin.

Dinas Koperasi, UMKM, Perdagangan, dan Perindustrian (DKUPP) Kabupaten Subang membenarkan adanya kenaikan harga tersebut. Berdasarkan data DKUPP, komoditas laut dan payau mengalami kenaikan bervariasi seperti lkan Bandeng naik dari Rp35.000/kg menjadi Rp40.000/kg.Udang mengalami kenaikan dari Rp50.000/kg menjadi Rp60.000/kg.

Kepala DKUPP Subang, Bambang Suhendar, menjelaskan bahwa fenomena ini murni karena hukum pasar yang tidak seimbang akibat cuaca buruk.

“Hukum supply dan demand ya. Minimnya komoditas, sementara permintaan tinggi, maka harga akan melambung,” kata Bambang belum lama ini.

Pihaknya berharap kondisi cuaca ekstrem ini segera membaik. Bambang mengimbau para pembudidaya yang masih bertahan untuk tetap berproduktivitas semaksimal mungkin agar pasokan ikan, udang, dan kepiting untuk masyarakat tetap tercukupi.