
Foto : Penjual Bendera di Subang
SUBANG – Menjelang peringatan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 pada 17 Agustus 2026 mendatang, riuh semangat kemerdekaan mulai terasa di sudut-sudut Kabupaten Subang. Suasana merah putih kini menghiasi jalur-jalur protokol. Sejumlah pedagang bendera musiman asal luar daerah pun mulai memadati pinggir jalan untuk mengadu nasib.
Salah satu lapak yang menyita perhatian berada di Jalan D. Kartawigenda, Subang. Di sana, beragam bendera dari berbagai ukuran dan bentuk berkibar tertiup angin, ditata rapi oleh Agus Jani (49) seorang pedagang musiman asal Garut. Bagi Agus, momen peringatan kemerdekaan bukan sekadar selebrasi, melainkan ajang memaksimalkan ikhtiar menjemput rezeki.
“Biasanya kami kembali ke Garut pada tanggal 16 Agustus,” ujar Agus saat berbincang, Sabtu (25/7/2026). Agus berharap seluruh barang dagangannya bisa ludes terjual sebelum hari puncak kemerdekaan tiba.
Variasi bendera yang ditawarkannya sangat beragam dengan harga yang relatif terjangkau mulai dari bendera kecil Rp 4.000 – Rp 15.000, umbul-umbul Rp 35.000, bendera ukuran besar Rp 60.000 hingga bendera background Rp 300.000.
Meski berstatus sebagai pedagang musiman yang menjajakan barang milik distributor (bos), hasil yang dibawa pulang Agus tak bisa dipandang sebelah mata. Pembelinya pun datang dari berbagai kalangan, mulai dari perorangan, dinas Pemkab, instansi pemerintahan, hingga perusahaan swasta.
“Pada tahun 2025 lalu saya dapat untung bersih Rp 5 jutaan selama 20 hari,” ungkap Agus penuh syukur.
Senada dengan Agus, Muhamad Cecep (40), pedagang bendera asal Tasikmalaya, juga mengecap manisnya gurih rezeki jelang Agustus. Baru dua hari menggelar lapaknya di Subang, Cecep optimistis bisa mengulang kesuksesan tahun lalu.
“Biasanya uangnya langsung dikirim ke keluarga di rumah. Ya lumayan, 20 hari dapat Rp 6 juta,” tuturnya.
Peluang emas momen HUT RI ternyata tak hanya dinikmati oleh pedagang asal Garut atau Tasikmalaya semata. Perputaran uang dari maraknya penjualan bendera turut memberikan efek domino bagi warga lokal Subang. Salah satunya Rastim (42), perajin sekaligus penjual tiang bambu penyangga bendera.
Rastim mengaku, saban memasuki musim kemerdekaan, ia selalu kebanjiran pesanan bambu dari para pembeli bendera maupun panitia kegiatan.
“Banyak ya (pesanan), mulai dari bambu yang kecil sampai yang besar. Ya lumayan lah untungnya,” pungkas Rastim.
Bagi para pedagang ini, bentangan kain merah putih di pinggir jalan bukan sekadar simbol nasionalisme yang berkibar saban tahun, melainkan napas ekonomi dan harapan baru bagi kesejahteraan keluarga mereka di kampung halaman.