
SUBANG – Para sopir angkutan kota (angkot) di Kabupaten Subang mengeluh, Jumlah penumpang melorot tajam, jikalaupun ada saat ini yang menjadi mayoritas adalah anak sekolah dan para ibu rumah tangga yang hendak pergi ke pasar.Kondisi ini membuat para sopir menjerit karena pendapatan harian mereka makin tak menentu.
Darmawan, salah satu sopir angkot di Subang, mengungkapkan bahwa sepinya penumpang dipicu oleh kian maraknya transportasi berbasis online. Kehadiran angkutan online membuat masyarakat makin enggan naik angkot konvensional.
“Sepi penumpang karena maraknya angkutan online, jadi penumpang yang naik angkot sangat minim,” ujar Darmawan yang beroperasi di trayek Cibogo – Otista – Sutaatmaja – Pujasera, Senin (27/7/2026).
Untuk menyiasati kondisi tersebut, Darmawan dan rekan sesama sopir terpaksa harus mencari cara demi mendapatkan selembar rupiah. Berbagai cara terpaksa dilakukan walau menyita waktu lebih lama.
“Biasanya ya ngetem agak lama, hingga ekstra berkeliling mencari calon penumpang,” jelaskannya.
Sepinya minat masyarakat naik angkot turut berdampak pada populasi armada di jalanan. Dari empat trayek yang ada di Subang, jumlah angkot yang masih beroperasi diperkirakan menyusut signifikan hingga kini tersisa sekitar 250 unit saja.
Bagi para sopir non-pemilik, kondisi ini terasa makin menghimpit karena mereka tetap terbebani kewajiban setoran harian kepada pemilik armada.
“Yah sepi, mikirin setoran saja sudah bingung tiap hari,” pungkas Darmawan.
Di sisi lain, Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat berencana mengambil langkah tegas terkait operasional angkot yang dinilai sudah tidak layak jalan. Evaluasi difokuskan pada angkutan antarkabupaten dan antarkota yang masih memakai armada tua serta tak lagi memenuhi standar pelayanan publik.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menegaskan bahwa penertiban ini bakal diimbangi dengan solusi konkret. Pemprov Jabar berencana mentransformasi tata kelola transportasi umum dengan mendorong para sopir angkot agar bisa memiliki armada sendiri
Tak hanya itu, sejalan dengan visi ramah lingkungan, peremajaan angkutan kota direncanakan bakal beralih ke armada berbasis kendaraan listrik (electric vehicle/EV) untuk menekan emisi bahan bakar fosil.
“Kita ingin sopir menjadi pemilik kendaraan. Pemerintah sedang memikirkan skema pembiayaan tanpa uang muka (DP) sehingga kesejahteraan mereka tumbuh. Jika sopir bertindak sekaligus sebagai pemilik yang mencicil dan merawat kendaraannya, mereka akan jauh lebih tertib dibandingkan jika hanya sekadar menyetor,” kata Dedi Mulyadi.