
SUBANG – Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Subang hingga saat ini mengaku belum menerima kabar maupun kepastian resmi terkait penugasan Manajer Kampung Nelayan Merah Putih di wilayahnya dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Bidang Perikanan Tangkap DKP Kabupaten Subang, Budi Rachman. Ia menegaskan bahwa pihak dinas masih menunggu pembaruan informasi dari pemerintah pusat.
“Kami belum mendapat kabar tentang manajer Kampung Nelayan Merah Putih untuk di Subang ya,” ujar Budi saat dikonfirmasi, Selasa (4/8/2026).
Budi menjelaskan, program Kampung Nelayan Merah Putih sendiri merupakan kelanjutan dari program strategis nasional yang sebelumnya bernama Kampung Nelayan Maju (Kalaju).
“Ya betul, dulu programnya Kampung Nelayan Maju, yang sekarang berubah nama menjadi Kampung Nelayan Merah Putih,” jelasnya.
Untuk alokasi tahun 2026, DKP Kabupaten Subang telah mengusulkan dua desa pesisir sebagai penerima program bantuan tersebut, yaitu Desa Rawameneng di Kecamatan Blanakan dan Desa Anggasari di Kecamatan Sukasari. Usulan bantuan tersebut telah dikirimkan sejak Januari 2026 lalu.
Nantinya, anggaran sebesar lebih dari Rp 6 miliar akan dikelola secara langsung oleh pemerintah pusat melalui KKP untuk pengerjaan sejumlah infrastruktur fisik di dua lokasi tersebut.
Adapun sasaran pembangunan mencakup perbaikan jalan lingkungan, revitalisasi bangunan Tempat Pelelangan Ikan (TPI), pembangunan tanggul penahan tanah (TPT), perbaikan sistem drainase, pembuatan balai nelayan, serta penyediaan fasilitas pendukung perikanan lainnya.
Budi berharap proyek fisik ini dapat mempercepat modernisasi infrastruktur di kawasan sentra perikanan Subang. Selain mempermudah mobilitas nelayan, fasilitas pendukung yang memadai diyakini mampu memicu roda perekonomian warga pesisir.
Secara nasional terdapat 5.159 Manajer Kampung Nelayan Merah Putih yang siap diterjunkan ke seluruh wilayah Indonesia. Program ini ditargetkan untuk menopang swasembada pangan nasional, mengentaskan kemiskinan di wilayah pesisir, serta menggerakkan ekonomi desa.
Para manajer tersebut mengemban tugas strategis, antara lain mengelola operasional hulu ke hilir, menjaga kualitas rantai dingin (cold chain) produk perikanan, hingga memimpin rantai distribusi pasar lokal.
Di tingkat lapangan, manajer bertugas memimpin operasional harian fasilitas unit bisnis seperti manajemen produksi, penjaminan mutu (quality control), dan administrasi keuangan. Kehadiran mereka diproyeksikan menjadi motor penggerak ekosistem ekonomi lokal, memangkas rantai distribusi yang tidak efisien, serta memastikan seluruh hasil tangkapan nelayan terserap optimal oleh pasar maupun koperasi.