
SUBANG – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Subang mencatat sebanyak 103 kasus baru kusta ditemukan sepanjang periode Januari hingga Juli 2026. Dari total temuan tersebut, mayoritas penderita mengidap kusta tipe Multibasilar (MB) atau tipe basah yang memiliki tingkat penularan tinggi.
Kepala Bidang P2P Dinas Kesehatan Kabupaten Subang, dr. Indriati Oetama, membenarkan data penemuan kasus tersebut. Berdasarkan rincian medis, terdapat 102 kasus MB dan 1 kasus Pausibasilar (PB) atau tipe kering.
Kepala Bidang P2P Dinas Kesehatan Kabupaten Subang, dr. Indriati Oetama, membenarkan data penemuan kasus tersebut. Berdasarkan rincian medis, terdapat 102 kasus MB dan 1 kasus Pausibasilar (PB) atau tipe kering.
“Kasus MB dewasa mencapai 99 orang, MB anak 3 orang, dan PB dewasa 1 orang. Secara keseluruhan tercatat ada 3 kasus yang menyerang anak-anak,” ujar pejabat Dinkes yang akrab disapa dr. Noni tersebut, Sabtu (8/8/2026).
Berdasarkan pemetaan tingkat keparahan, sebanyak 78 pasien terdata mengalami cacat tingkat 0, 18 pasien mengalami cacat tingkat 1, dan 4 pasien tercatat menderita cacat tingkat 2.
Noni menyoroti adanya temuan infeksi kusta pada anak yang berlanjut hingga kondisi fisik memburuk. “Betul ada 4 anak yang menderita kusta hingga cacat tingkat dua ya,” tegasnya.
Ia mengungkapkan bahwa penularan kusta di tengah masyarakat tidak semata-mata disebabkan oleh Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) maupun sanitasi lingkungan yang buruk. Faktor pemicu terbesar justru berasal dari banyaknya sumber penularan di lapangan yang belum terdeteksi dan belum mendapatkan pengobatan.
“Gejala utama kusta adalah bercak putih atau merah yang mati rasa. Karena tidak terasa sakit, masyarakat sering kali mengabaikan dan menganggapnya bukan penyakit, padahal kondisi tersebut sudah bisa menularkan ke orang lain,” jelas Noni.
Upaya penanganan kusta di Kabupaten Subang tahun ini menghadapi tantangan berat lantaran tidak adanya alokasi anggaran khusus pada tahun 2026 untuk pembiayaan kegiatan operasional penanggulangan.
Guna mengakalinya, Dinkes Subang mengambil langkah efisiensi dengan memperkuat sinergi lintas sektor serta merangkul faskes swasta agar penemuan kasus secara dini tidak terhenti.
“Kami harus membangun kolaborasi dengan lintas program dan lintas sektor, serta menggandeng dokter dan bidan praktik mandiri agar kegiatan deteksi dini tetap berjalan dan efektif untuk menemukan kasus di lapangan,” terangnya.
Langkah aktif penemuan kasus (active case finding) tersebut dijalankan secara terpadu melalui puskesmas, sekaligus menggenjot partisipasi aktif kader dan masyarakat dalam merujuk warga yang bergejala suspek kusta.
Kewaspadaan ini menjadi krusial mengingat peta kerawanan wilayah yang cukup luas. Dari total 254 desa yang tersebar di Kabupaten Subang, sebanyak 52 desa di antaranya kini masuk dalam pemetaan kategori desa berisiko tinggi penularan kusta.