
Foto: ilustrasi
SUBANG – Musim kemarau ekstrem yang melanda wilayah Kabupaten Subang saat ini berpotensi memperberat gejala batuk dan meningkatkan sensitivitas iritasi saluran pernapasan, khususnya bagi penderita Tuberkulosis (TBC). Kondisi udara kering serta berdebu juga dinilai mempermudah penyebaran kuman TBC di tengah masyarakat.
“Ya itu benar, musim saat ini sangat riskan bagi penderita TBC,” ujar Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Subang, dr. Indriati Oetama, saat dikonfirmasi, Sabtu (5/9/2026).
Indriati menjelaskan, risiko penularan TBC meningkat lantaran banyaknya masyarakat yang menutup rapat rumah mereka untuk menghindari hawa panas dan debu. Alhasil, sirkulasi udara di dalam rumah menjadi buruk dan sinar matahari tidak dapat masuk secara optimal. Kondisi tersebut membuat bakteri Mycobacterium tuberculosis mampu bertahan lebih lama di dalam hunian penderita TBC aktif.
Selain sirkulasi udara yang minim, faktor angin dan partikel debu turut memperluas jangkauan sebaran kuman. Percikan dahak (droplet) yang keluar dari penderita TBC aktif berpotensi terbawa lebih jauh oleh hembusan angin yang bercampur debu.
“Debu dan partikel percikan dahak yang mengandung kuman penderita bisa terbawa lebih jauh,” kata Indriati.
Berdasarkan data Dinkes Kabupaten Subang dari Januari hingga Agustus 2026, tercatat sebanyak 3.020 kasus TBC sensitif obat yang terdeteksi di wilayahnya.
“Data yang ada di kami ada sebanyak 3.020 penderita ya,” ulasnya.
Guna mengejar target eliminasi TBC 2030 dan menekan angka kasus, Dinkes Subang terus menggalakkan sejumlah langkah strategis sepanjang tahun 2026. Upaya tersebut meliputi deteksi dini melalui tracing TBC terintegrasi CKG serta penelusuran investigasi kontak yang melibatkan kader TBC dari Penabulu STPI.
Selain itu, Dinkes Subang melalukan perluasan akses alat Tes Cepat Molekuler (TCM) untuk percepatan pemeriksaan dahak penderita, mengoptimalkan pengobatan dengan strategi DOTS (Directly Observed Treatment, Short-course), serta menjamin ketersediaan obat secara gratis.
“Kami mengimbau agar masyarakat tetap waspada, jaga kesehatan, dan rutin periksakan diri,” tutup Indriati.
