
Foto : Ilustrasi
SUBANG – Cerita Pak Surya (46), seorang pemilah sampah yang berhasil terpilih menjadi Kepala Desa Mekarwangi, Kecamatan Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi pada Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) September 2026. Di balik kemenangannya, Surya Blak-blakan mengaku menghabiskan dana operational hingga Rp100 juta selama proses pencalonan.
Biaya tersebut diungkapkan Surya saat berbincang dengan mantan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Dana puluhan juta itu bukan berasal dari tabungan pribadi, melainkan hasil meminjam dari rekannya dengan menjaminkan surat tanah milik keluarga.
Langkah nekat tersebut diambil demi menutup biaya operasional pencalonan yang sah. Padahal, pendapatan rutin Surya dari memilah limbah pabrik hanya berkisar Rp1 juta hingga Rp2 juta per bulan. Surya sendiri tinggal di rumah yang sangat sederhana bersama istri, lima orang anak, serta ibu mertuanya.
Tingginya biaya politik dalam ajang Pilkades juga menjadi sorotan di daerah lain, salah satunya di Kabupaten Subang yang saat ini tengah menggelar Pilkades serentak di 165 desa.
Kepala Bidang Pemdes Dispemdes Subang, Agung Subur, menyampaikan bahwa tahapan Pilkades di wilayahnya telah memasuki verifikasi berkas bakal calon. Pemerintah daerah menganggarkan puluhan miliar untuk memfasilitasi logistik, operasional panitia, hingga penerapan e-voting di beberapa tempat.
“Pemerintah hanya menganggarkan untuk kebutuhan logistik dan operasional. Selebihnya, untuk sosialisasi berupa spanduk calon itu ditanggung oleh pribadi calon,” ujar Agung, Jumat (25/9/2026).
Terkait hal tersebut, salah seorang warga Subang, Radit, menduga perputaran uang dalam Pilkades serentak sangat masif karena banyaknya kebutuhan operasional para kandidat.
“Ya pasti besar, angkanya bisa di atas Rp300 jutaan, ya bisa jadi sang calon juga minjam uang untuk pencalonannya, Dana itu kan mulai dari pembentukan tim sukses, acara ngaliwet, pembuatan baliho, pernak-pernik, dan lainnya,” kata Radit.

