Lompat ke konten
Home » Anggaran Perpusnas Dipangkas Rp 343 M, Bantuan Buku ke Daerah Terganggu Salah Satunya Kabupaten Subang

Anggaran Perpusnas Dipangkas Rp 343 M, Bantuan Buku ke Daerah Terganggu Salah Satunya Kabupaten Subang

  • oleh

Foto : Perpusda Subang

SUBANG – Pemangkasan anggaran Perpustakaan Nasional (Perpusnas) berdampak langsung pada berhentinya sejumlah program bantuan literasi di daerah. Kondisi ini pun dikeluhkan oleh masyarakat, salah satunya di Kabupaten Subang, yang mendapati koleksi buku di perpustakaan daerah setempat makin terbatas dan usang.

Kepala Perpusnas Aminudin Aziz mengungkapkan, anggaran lembaganya dipangkas cukup drastis hingga Rp 343 miliar. Dari anggaran yang pada tahun 2025 mencapai Rp 721 miliar, kini tersisa sekitar Rp 377,9 miliar untuk tahun 2026.

Akibat pemotongan tersebut, program bantuan pengiriman 1.000 buku ke setiap desa, taman baca masyarakat (TBM), lembaga pemasyarakatan (lapas), hingga puskesmas yang telah berjalan sejak 2024–2025 terpaksa dihentikan.

“Bahwa betul dengan penurunan anggaran yang sangat drastis, pekerjaan yang terkait dengan literasi itu menjadi terganggu. Misalnya tadi disampaikan juga terkait dengan bantuan buku misalnya,” ujar Aminudin dalam rapat kerja bersama Komisi X DPR RI, Kamis (16/7/2026).

Aminudin memastikan program pendistribusian buku tersebut tidak dapat dilanjutkan pada tahun ini akibat keterbatasan dana. Selain bantuan buku, dukungan renovasi perpustakaan, penyediaan perangkat teknologi informasi, hingga perlengkapan penunjang ke daerah ikut terdampak.

“Tahun 2026 ini tidak bisa kami kerjakan karena tidak ada uangnya,” tegas Aminudin.

Dampak dihentikannya bantuan buku dari pusat mulai dirasakan oleh pengunjung Perpustakaan Daerah (Perpusda) Subang. Minimnya pembaruan koleksi membuat pengunjung merasa kehilangan daya tarik membaca.

Dini (20), warga Subang, mengeluhkan kondisi buku-buku di Perpusda Subang yang dinilainya sudah usang dan kurang menyajikan bahan bacaan terbaru.

“Sudah tidak ada lagi buku-buku baru. Banyak yang usang dan tidak up to date. Ya mau bagaimana lagi,” ujar Dini saat ditemui, Kamis (6/8/2026).

Sementara itu, warga Subang lainnya, Dicky Zulkifli, memilih untuk mengalihkan kebiasaan bacanya ke media digital. Menurutnya, membaca lewat gawai menjadi alternatif praktis meski formatnya cenderung lebih singkat.

“Sekarang membaca lewat gadget. Meskipun ringkas dan tidak seperti buku tebal pada umumnya, pengetahuan tentang literasi tetap bisa digapai dalam genggaman,” tutur Dicky.

Kondisi pemangkasan anggaran literasi ini pun menuai perhatian publik, terlebih saat dibandingkan dengan prioritas penganggaran program lain di tingkat nasional. Ketiadaan bantuan buku baru membuat perpustakaan daerah harus memutar otak agar minat baca masyarakat tetap terjaga di tengah keterbatasan sarana fisik.