Lompat ke konten
Home » BPBD Jabar Catat 10.000 Warga di 7 Daerah Terdampak Kemarau, Krisis Air Bersih Merembet ke Subang

BPBD Jabar Catat 10.000 Warga di 7 Daerah Terdampak Kemarau, Krisis Air Bersih Merembet ke Subang

  • oleh

Foto : Warga Jabar Krisis Air Bersih ( dok: Kumparan)

SUBANG – Bencana kekeringan akibat kemarau panjang terus meluas di wilayah Jawa Barat (Jabar). Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jabar mencatat, lebih dari 10.000 warga kini mulai terdampak krisis air bersih yang tersebar di tujuh daerah.

Pranata Humas Ahli Muda BPBD Jabar, Hadi Rahmat Hardjasasmita, mengungkapkan ketujuh wilayah yang sudah melaporkan dampak kekeringan tersebut meliputi Kabupaten Garut, Bogor, Bekasi, Karawang, Pangandaran, Tasikmalaya, serta Kota Sukabumi.

”Lebih dari 10.000 warga yang mengalami krisis air bersih akibat terdampak bencana kekeringan di tujuh daerah tersebut,” kata Hadi belum lama ini.

Hadi menuturkan, kekeringan dipicu oleh cuaca kemarau berkepanjangan dan menurunnya intensitas curah hujan. Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau di Jabar diprediksi akan berlangsung hingga September 2026 mendatang.

Sebagai langkah penanganan, BPBD di masing-masing daerah telah mendistribusikan logistik air bersih ke pemukiman warga.

”Jajaran BPBD di daerah yang terdampak telah menerjunkan bantuan air bersih demi memenuhi kebutuhan masyarakat. Total bantuan air bersih yang disalurkan kepada masyarakat lebih dari 155.000 liter,” tuturnya.

Meski belum masuk dalam daftar BPBD Jabar, dampak kekeringan nyata adanya dan mulai meringsek ke Kabupaten Subang. Seiring masuknya fenomena musim kemarau panjang yang diperparah El Nino “Godzilla”, krisis air bersih mulai berdampak kepada warga Subang, mulai dari wilayah Pantura, Subang Selatan,Subang Barat,hingga kawasan Subang Kota dan sekitarnya.

Kondisi ini memicu menyusutnya debit air sumur warga secara drastis. Padahal, upaya antisipasi melalui pengeboran air tanah dilaporkan telah dilakukan di 10 titik krusial terdampak, seperti di Sukasari, Ciasem, Ciater, Jalancagak, Kasomalang, Cijambe, Cipunagara, Legonkulon, Pamanukan, hingga Pusakanagara.

Nendi, warga Wanareja, mengaku harus bersabar ekstra hanya untuk memenuhi kebutuhan air harian rumah tangganya karena debit air sumur yang mengecil.

“Karena saya pakai air sumur ya, bukan PDAM, jadi terasa dampaknya. Debit air terasa sedikit, bahkan untuk memenuhi ember saja harus membutuhkan waktu yang lama,” keluh Nendi, Senin (13/7/2026)

Keluhan senada disampaikan oleh Cahya, warga Kecamatan Binong. Menurutnya, air sumur di wilayahnya kini sudah sangat sulit didapat, bahkan mesin pompa air pun kerap tak mampu menyedot air secara normal.

“Ya itu tadi, kadang kalau nyalain jetpump harus dipancing dulu, butuh waktu yang lumayan lama,untuk mendapat air,” terangnya.