
SUBANG – Kekeringan lahan pertanian melanda Kabupaten Subang, sejak awal Agustus 2026. Dua wilayah yang tercatat terdampak adalah, Desa Tanjung Kecamatan Cipunagara, dan Desa Jatimulya Kecamatan Compreng.
“Tercatat 150 hektar lahan di Cipunagara, dan 30 hektare pesawahan di Compreng mengalami kekeringan. Ini berdampak langsung pada masa tanam petani,” kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Subang, Enda dikutip, Jumat 21 Agustus 2026.
Di Desa Tanjung, lahan pertanian berupa tegalan mengalami puso, karena tidak ada hujan selama dua bulan. Sementara di Desa Jatimulya, saluran irigasi mengering, sehingga petani tidak bisa mengairi sawah.
“Kami sudah berkoordinasi dengan Dinas Pertanian, dan BBWS Citarum. Upaya pompanisasi air, mulai dilakukan di titik-titik kritis,” ujarnya.
BPBD bersama TNI, dan relawan mengerahkan pompa air portable, untuk membantu pengairan. Bantuan ini diharapkan, dapat menyelamatkan sebagian tanaman yang masih bisa diselamatkan.
“Pompanisasi adalah langkah darurat. Kami juga mendorong petani beralih ke pola tanam, yang lebih tahan kekeringan,” tutur Enda.
Selain bantuan teknis, BPBD juga mendata kerugian petani, untuk diajukan ke pemerintah daerah. Data ini akan menjadi dasar bantuan benih, dan pupuk pada musim tanam berikutnya.
“Kami ingin memastikan, petani tidak sendirian menghadapi dampak kekeringan. Pemulihan harus dimulai sejak dini,” sambungnya.