Lompat ke konten
Home » BYD Klaim Telah Rekrut 5.000 Pekerja, Warga Subang Keluhkan Sulitnya Masuk Kerja di Pabrik

BYD Klaim Telah Rekrut 5.000 Pekerja, Warga Subang Keluhkan Sulitnya Masuk Kerja di Pabrik

  • oleh

Foto : Istimewa

SUBANG – Pernyataan Pabrik EV raksasa asal Tiongkok, PT BYD Auto Indonesia, terkait penyerapan tenaga kerja memicu sorotan masyarakat Kabupaten Subang. Meski manajemen mengklaim telah merekrut ribuan pekerja lokal, warga setempat mengaku belum merasakan dampak signifikan dari keberadaan pabrik mobil listrik tersebut.

Vice President BYD Co Ltd, Liu Xueliang, menegaskan pihaknya telah merekrut 5.000 staf dari berbagai wilayah di Indonesia. Para pekerja ini disiapkan untuk mendukung ekosistem produksi menyeluruh, mulai dari tahap stamping, welding, painting, hingga assembly.

“Angka 5.000 pekerja ini baru merupakan tahap awal operasional,” ujar Liu Xueliang.

BYD memproyeksikan penambahan tenaga kerja secara bertahap hingga menyentuh angka 20.000 karyawan saat kapasitas produksi beroperasi penuh mencapai 150.000 unit kendaraan per tahun.

Namun, klaim tersebut berbanding terbalik dengan data resmi Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Subang. Hingga April 2026, catatan Disnakertrans menunjukkan jumlah warga lokal Subang yang bekerja di BYD baru menyentuh angka ratusan orang.

Mantan Kepala Disnakertrans Subang, Rona Mairansyah, mengungkapkan bahwa total penyerapan tenaga kerja BYD saat ini baru mencapai 2.041 orang secara keseluruhan. Dari jumlah itu, wilayah Jawa Barat menyumbang hampir 50 persen.

“Warga Subang yang sudah diserap oleh BYD sebanyak 299 orang. Penyerapan tenaga kerja memang paling banyak dari Subang,” kata Rona, Rabu (15/4/2026).

Berdasarkan data persebaran di Jawa Barat, Kabupaten Subang memimpin dengan 299 pekerja, disusul Karawang (220 orang), Bekasi (144 orang), dan Purwakarta (112 orang). Wilayah lain seperti Bandung (91 orang), Cirebon (75 orang), Indramayu (63 orang), Kuningan (50 orang), Majalengka (28 orang), dan Bogor (19 orang) juga mengisi formasi tersebut. Sementara itu, 937 pekerja sisanya berasal dari luar Jawa Barat.

Minimnya angka penyerapan ini memicu keluhan dari warga Subang.Yati, meminta Pemerintah Kabupaten Subang lebih tegas mendesak perusahaan agar memprioritaskan masyarakat lokal.

“Kami tidak ingin hanya jadi penonton. Kami ingin bekerja sebagai warga lokal,” tegas Yati, Senin (7/9/2026).

Meski begitu, Yati menyadari adanya hambatan teknis yang dihadapi warga sekitar. Banyak pelamar lokal yang gugur dalam proses seleksi akibat keterbatasan kompetensi, seperti penguasaan bahasa asing hingga keahlian teknis di bidang otomotif.