
SUBANG – Aroma beras ketan panggang menyeruak pelan dari dapur-dapur warga Desa Caracas, Kecamatan Kalijati, Kabupaten Subang. Di sudut lain desa, deretan bambu yang diiris tipis dengan cermat sedang dianyam perlahan menjadi boboko—wadah nasi tradisional yang kini kian langka tergerus zaman.
Desa Caracas sesungguhnya tak pernah kehabisan denyut ekonomi. Selain industri olahan pangan lokal dan kerajinan tangan, kolam-kolam budidaya ikan lele serta rumah jamur milik warga tumbuh menyebar di permukiman. Namun, tantangan klasik kerap membentengi para pelaku usaha mikro di sana: tata kelola usaha yang masih konvensional serta minimnya akses ke pasar digital.
Realitas inilah yang dijumpai puluhan mahasiswa semester V Sekolah Tinggi Ekonomi Islam Nahdlatul Ulama (STEI NU) Subang saat menjalani program Kuliah Kerja Nyata (KKN) sejak 13 Juli 2026 lalu. Berada di lapangan hingga 20 Agustus 2026 mendatang, para mahasiswa membawa misi utama: menjembatani potensi lokal Caracas dengan penguatan literasi ekonomi syariah dan modernisasi pemasaran.
Langkah awal mahasiswa tak dimulai dari balik meja rekaan, melainkan dengan membumikan diri di tengah warga. Usai prosesi serah terima bersama Kepala Desa Caracas dan jajaran perangkat desa, tim KKN langsung menyebar melakukan observasi lapangan dan pemetaan potensi secara menyeluruh.

Untuk memahami denyut nadi sosial dan ekonomi desa, serangkaian dialog mendalam digelar bersama tokoh lokal. Mahasiswa berdiskusi dengan Ketua RT 10/RW 05 guna menyerap gambaran kondisi kesejahteraan warga, lalu bertukar gagasan dengan pengurus Karang Taruna Desa Caracas untuk memetakan potensi kepemudaan.
Tak berhenti di situ, aspek spiritual dan edukasi keagamaan turut dirangkul lewat silaturahmi ke pengasuh Pondok Pesantren Al-Mukhtariyah serta Kepala MDTA Darul Iman.
“Fokus ke pemberdayaan ekonomi warga, optimalisasi koperasi atau BUMDes, juga peningkatan literasi ekonomi syariah,” ujar Dr. Muhajirin, Ketua Tim Dosen Pembina Lapangan (DPL) KKN STEI NU Subang, Kamis (6/8/2026).
Pendampingan ini dirancang secara terpadu di bawah naungan tim DPL yang dipimpin Dr. Muhajirin bersama Dwi Suci Widiastuti, M.Ak., Kabidin, M.M., dan Dirto Susanto, M.M.
Meski komoditas lokal seperti opak, kerajinan anyaman bambu, lele, hingga jamur memiliki daya tawar yang menjanjikan, keberadaannya dinilai belum terintegrasi secara maksimal dengan sistem tata kelola koperasi desa maupun strategi digital marketing.
Melihat celah tersebut, mahasiswa KKN STEI NU Subang hadir menawarkan solusi konkret. Selama sisa masa pengabdian hingga pertengahan Agustus, para mahasiswa mendampingi para pelaku UMKM dan pengelola BUMDes secara intensif.
Program pendampingan ini mencakup pembenahan manajemen keuangan internal berbasis prinsip syariah, pelatihan pencatatan finansial digital, hingga pembukaan akses pasar secara daring (online). Produk khas Caracas yang mulanya hanya dipasarkan terbatas dari mulut ke mulut kini mulai disiapkan untuk merambah etalase digital.
Integrasi antara kearifan lokal dan sentuhan teknologi digital ini diharapkan tak sekadar menjadi program seremonial musiman. Lebih dari itu, sentuhan mahasiswa STEI NU Subang diharapkan mampu meninggalkan fondasi ekonomi yang mandiri, berdaya saing, dan berkelanjutan bagi warga Desa Caracas