Lompat ke konten
Home » Fenomena Eksploitasi Anak di Lampu Merah Subang, Pengemis Raup hingga Rp 300 Ribu Sehari

Fenomena Eksploitasi Anak di Lampu Merah Subang, Pengemis Raup hingga Rp 300 Ribu Sehari

  • oleh
Foto : Dinsos Subang Asesmen Pengemis yang Bawa Anak- anak

SUBANG – Fenomena maraknya dugaan eksploitasi anak di sejumlah jalur protokol dan lampu merah di wilayah Kota Subang kian meresahkan. Para pengemis sengaja memanfaatkan anak-anak untuk memancing rasa kasihan pengendara demi meraup keuntungan pribadi.

Modus operandi ini terbukti ampuh menarik empati masyarakat. Dari hasil memanfaat anak-anak di jalanan tersebut, para pengemis mampu mengantongi pendapatan mulai dari Rp100 ribu hingga Rp300 ribu per harinya.

Kondisi ini dikeluhkan oleh sejumlah pengguna jalan yang merasa miris melihat anak-anak harus bertaruh nyawa dan kesehatan di jalan raya. Salah seorang pengendara asal Dangdeur, Subang, Marliyani menyatakan keprihatinannya atas fenomena tersebut.

“Itu gimana yah, kasian kan anak kecil panas, debu. Kalau mau ngemis ya jangan bawa anak kecil,” ujar Marliyani, Kamis ( 16/7/2026).

Ia menilai tindakan para pengemis yang mengedepankan anak-anak untuk menggalang empati adalah hal yang keliru. Marliyani menduga kegiatan ini sudah bergeser menjadi profesi tetap dan mendesak pihak terkait untuk segera mengambil tindakan.

“Ini jadi profesi kan? Coba tolong ditertibkan, kasihan anak-anak,” pintanya.

Dugaan maraknya eksploitasi anak di wilayah Subang Kota ini dibenarkan oleh pihak Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Subang. Penyuluh Sosial Dinsos Subang, Rizki Ramadhan, mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan asesmen langsung kepada para pengemis tersebut.

“Ya, saya pernah menanyakan apakah mau ke panti, mereka menolaknya dan hanya ingin terus menjadikan mengemis sebagai pilihan utama,” kata Rizki.

Dinsos sebenarnya telah menawarkan solusi jangka panjang, mulai dari fasilitas tinggal di panti Provinsi Jawa Barat, pemberian keterampilan, hingga bantuan modal usaha. Namun, tawaran tersebut mentah-mentah ditolak.

Rizki meluruskan informasi mengenai pendapatan fantastis para pengemis. Berdasarkan hasil asesmen, pendapatan riil mereka berkisar antara Rp100 ribu hingga Rp300 ribu per hari, bukan ratusan juta rupiah seperti isu yang sempat simpang siur di media sosial. Nilai pendapatan yang lumayan ini membuat mereka memilih mengemis sebagai profesi tetap.

Dari hasil pelacakan Dinsos, mayoritas pengemis jalanan ini bukan warga asli kota, melainkan datang dari wilayah barat hingga utara Subang.

“Nah anak-anak tersebut ada yang memang anak kandung, ataupun kerabat dari pengemisnya. Mereka sebenarnya punya rumah tinggal (bukan tunawisma),” pungkas Rizki.