
Foto : Istimewa
SUBANG – BPBD dan Dinas Kesehatan Kabupaten Subang mengimbau warga untuk mewaspadai potensi sebaran abu vulkanik halus akibat erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK). Partikel debu tersebut berisiko memicu gangguan saluran pernapasan, iritasi mata, hingga masalah kulit.
Penata Kebencanaan Ahli Muda BPBD Subang, Tommy Hidayat, mengonfirmasi bahwa pihaknya terus memantau perkembangan situasi dan pergerakan arah angin guna mengantisipasi kemungkinan sebaran abu ke wilayah Jawa Barat bagian tengah.oleh karena itu masyarakat diimbau gunakan masker.
“Kami imbau agar masyarakat waspada,gunakan masker, mudah-mudahan abu vulkanik tidak sampai ke Subang,” kata Tommy, Senin (7/9/2026).
Senada dengan BPBD, Kabid P2P Dinkes Subang dr. Indriati Oetama menjelaskan bahwa sebaran abu vulkanik sangat bergantung pada arah dan kecepatan angin. Apabila angin bertiup ke arah tenggara atau selatan, abu halus berisiko terbawa hingga wilayah Subang.
Dinkes Subang mencatat sejumlah risiko kesehatan akibat abu vulkanik, antara lain iritasi hidung, batuk, sakit tenggorokan, sesak napas, iritasi mata kemerahan, hingga gatal-gatal pada kulit. Warga diminta segera mendatangi Puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat jika mengalami gejala darurat seperti sesak napas berat dan nyeri dada.” Gunakan masker,” katanya.
Menanggapi situasi ini, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi meminta para kepala sekolah di daerah terdampak dengan intensitas abu tinggi, seperti Bogor dan Sukabumi, untuk mengalihkan kegiatan belajar mengajar menjadi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau daring mulai Senin (7/9/2026).
“Bagi wilayah yang intensitas debunya tinggi, para kepala sekolah bisa mengambil keputusan untuk melaksanakan pembelajaran secara daring di rumah masing-masing,” ujar Dedi Mulyadi.
Gubernur juga mengingatkan warga untuk memperketat protokol kesehatan dengan menggunakan masker di luar ruangan, memperbanyak minum air putih, menutup pintu dan jendela rumah, serta menghindari aktivitas memicu polusi seperti membakar sampah.
