Lompat ke konten
Home » Kemarau Panjang Hantui Pembudidaya Ikan Air Tawar di Subang, Dinas Perikanan Bersiaga

Kemarau Panjang Hantui Pembudidaya Ikan Air Tawar di Subang, Dinas Perikanan Bersiaga

  • oleh

Foto : Dinas Perikanan Subang Pantau Kolam Ikan Milik Warga

SUBANG – Musim kemarau panjang yang melanda wilayah Kabupaten Subang mulai memberikan dampak serius bagi para pembudidaya ikan air tawar. Penurunan debit air memicu penurunan kualitas kolam hingga ancaman gagal panen bagi para peternak ikan.

Dampak paling signifikan dilaporkan terjadi pada pemeliharaan model kolam air tenang yang selama ini mengandalkan aliran sungai dan saluran irigasi. Berkurangnya pasokan air membuat ketinggian kolam menyusut dramatis, yang berujung pada tingginya kepadatan ikan serta meningkatnya konsentrasi limbah amonia dari sisa pakan.

Kondisi ini diperparah dengan melonjaknya suhu air kolam. Berdasarkan data teknis, suhu yang melebihi batas optimal (26–30°C) memicu penurunan kadar oksigen terlarut (Dissolved Oxygen/DO) secara drastis, menurunkan nafsu makan ikan, hingga membuat komoditas seperti nila, lele, mas, gurami, dan patin menjadi rentan terserang penyakit. Jika dibiarkan dalam waktu lama, risiko kematian massal mengintai para pembudidaya.

“Biaya operasional kami juga membengkak. Karena air menyusut dan pasokan kurang, kami terpaksa harus terus menyalakan kincir aerasi dan memompa sumber air dari tempat lain,” keluh salah satu pembudidaya, Andi, Senin (20/7/2026).

Secara makroekonomi, ancaman nyata dari fenomena ini adalah penurunan volume produksi, ukuran panen yang lebih kecil, hingga potensi fluktuasi harga di pasar akibat terganggunya rantai pasok. 

Kepala Bidang Perikanan Air Tawar Dinas Perikanan Kabupaten Subang Andriana Lesnanda memastikan bahwa secara agregat, belum terjadi penurunan produksi dan penjualan ikan yang ekstrem di wilayah Kabupaten Subang.

” Untuk produksi dan penjualan ikan belum terjadi penurunan,” kata Andriana.

Pihaknya langsung bergerak cepat melakukan pemantauan ketat di lapangan. Adapun sejumlah langkah strategis yang digencarkan meliputi: 

– Pemetaan dan  Pemantauan: Melakukan mapping berkala terhadap lokasi budidaya yang mengalami krisis air bersih, sekaligus memonitor kualitas air guna mengantisipasi potensi kematian massal.

– Pendampingan Teknis:

Mengedukasi pembudidaya terkait manajemen kualitas air, instruksi pengurangan kepadatan tebar (stocking density), efisiensi pemberian pakan serta optimalisasi aerator.

-Koordinasi Lintas Sektor: 

Melakukan konsolidasi dengan instansi pengelola irigasi guna memastikan distribusi air ke sentra-sentra budidaya tetap terjaga.

– Sistem Peringatan Dini: 

Menyebarkan informasi prakiraan cuaca dan potensi kekeringan kepada kelompok pembudidaya agar langkah preventif bisa diambil lebih awal.

Dinas Perikanan pun terus menginventarisasi seluruh dampak di lapangan. ” Data volume produksi, luas areal panen, harga di tingkat pembudidaya, hingga jalur distribusi terus dipantau secara berkala sebagai dasar penetapan kebijakan dan program penanganan jika kondisi kedepan berubah menjadi ekstrem,” tutupnya.