
SUBANG – Pasokan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar bersubsidi untuk nelayan di Kecamatan Blanakan, Kabupaten Subang, Jawa Barat, mengalami penurunan signifikan. Kondisi ini membuat para nelayan kesulitan melaut, padahal saat ini tengah memasuki musim produktivitas tangkapan ikan.
Pengurangan pasokan tersebut terjadi di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum Nelayan (SPBUN) Blanakan. Kuota solar yang biasanya diberikan Pertamina sebesar 367 kiloliter (kl) per bulan, kini merosot menjadi 284 kl per bulan.
Kepala Bidang Perikanan Tangkap Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Subang, Budi Rakhman, membenarkan adanya keluhan dari para nelayan terkait kelangkaan solar di wilayah tersebut.
Kepala Bidang Perikanan Tangkap Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Subang, Budi Rakhman, membenarkan adanya keluhan dari para nelayan terkait kelangkaan solar di wilayah tersebut.
“Kami mendapat keluhan dari para nelayan di Blanakan bahwasanya untuk solar mereka sering tidak mendapatkan atau kehabisan,” ujar Budi saat dikonfirmasi, Jumat 22 Mei 2026.
Budi menjelaskan, setelah pihaknya melakukan konfirmasi kepada pengelola SPBUN Blanakan, diketahui bahwa terjadi pemotongan kuota bulanan dari Pertamina sebanyak 83 kl. Namun, hingga kini pihak DKP Subang belum menerima alasan resmi terkait kebijakan pemangkasan tersebut.
“Ada pengurangan dari Pertamina, pengurangan tersebut kami tidak mengetahui karena apa,” jelas Budi.
Dampak dari seretnya pasokan solar ini dinilai sangat memukul perekonomian nelayan lokal. Mengingat solar merupakan bahan bakar utama, banyak nelayan yang akhirnya terpaksa memarkir perahunya dan tidak bisa melaut.
Menyikapi masalah ini, DKP Subang bergerak cepat dengan melayangkan surat permohonan kepada pihak Pertamina.
“Oleh karena itu, kami mengajukan permohonan kepada Pertamina agar menstabilkan lagi pasokan solar ke SPBUN Blanakan agar nelayan optimal dalam hasil tangkapan melaut,” tegasnya.
Kesulitan di lapangan turut dirasakan langsung oleh Rohim, salah satu nelayan asal Blanakan. Menurutnya, karena pasokan yang masuk ke SPBUN sangat terbatas, pengelola terpaksa membatasi pembelian agar seluruh nelayan bisa kebagian, meskipun jumlahnya jauh dari cukup.
“Agak sulit beli solar untuk melaut. Karena pasokan sedikit, jadi dari pihak SPBUN harus membagi (jatah), dan kadang kami juga tidak kebagian,” keluh Rohim.
Para nelayan berharap pasokan solar dapat segera kembali normal agar mereka tidak kehilangan momentum panen ikan pada musim produktif kali ini.