
Foto : Ilustrasi
Infoaktual – Tersangka kasus dugaan korupsi program Makan Bergizi Gratis (MBG), Sony Sonjaya, menyatakan kesiapannya menjadi justice collaborator (JC) dalam perkara yang ditangani Kejaksaan Agung. Sony mengaku terpaksa menjalankan perintah dari sejumlah elite politik hingga tokoh ternama untuk membagi-bagikan jatah dapur MBG.
Pengacara Sony, Krisna Murti, mengungkapkan bahwa kliennya merasa dijadikan tumbal dalam kasus jual beli izin pendirian Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG. Sony merasa tidak adil lantaran dituding sebagai pihak yang mengatur dan menjual titik dapur, padahal ia hanya menjalankan atensi dari pihak lain.
“Sebelum melanjutkan pemeriksaan, dia (Sony) tarik tangan saya ke ruang sebelah. Dia bilang, saya mau JC,” ujar Krisna seperti dikutip dari detikX,Senin (8/6/2026).
Menurut Krisna, Sony menepis tuduhan bahwa dirinya yang mengarahkan yayasan tertentu untuk mengelola dapur MBG. Sebaliknya, Sony mengaku mendapatkan tekanan dan permintaan jatah dari berbagai pihak, mulai dari kalangan eksekutif, legislatif, organisasi masyarakat, hingga tokoh keagamaan.
“Ada eksekutif, ada legislatif. Contohnya ya, mereka minta titik (SPPG). Kemudian kita kasih, berapa misalkan contohnya kita kasih 100 titik. Dari total 100 titik, dibangun 10 titik, 90 titik sisanya mereka jual. Masak semuanya dibilang Sony yang jual gitu loh,” ungkap Krisna menirukan ucapan kliennya.
Lebih jauh, Sony mengklaim bahwa sebagian permintaan jatah tersebut datang melalui Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana. Sony mengaku sulit menolak permintaan tersebut karena datang dari pimpinannya dan membawa nama tokoh-tokoh besar.
“Kabadan bilang, ‘Mas Soni, tolong ya ini sekian, ini punya ini.’ Satu, Kabadan yang minta. Kemudian, Kabadan mengatakan ini punya ini. Ya saya tahu kan dia (yang minta) adalah tokoh yang dikenal. Jadi banyak yang nitip sebetulnya di tingkat elite,” kata Krisna.
Krisna memastikan kliennya memiliki bukti kuat untuk mendukung status justice collaborator-nya. Bukti tersebut berupa rekaman percakapan hingga tangkapan layar (chat) antara Sony dengan para pemburu rente tersebut.
“Data pasti akuratlah. Misalkan chat-chat mereka yang tanya sudah sejauh mana terkait proses dapur, di mana saja, bisa nggak ini diperjuangkan. Bisa nggak titik ini digeser ke sini,” jelas Krisna.
Hingga saat ini, Sony disebut telah mengantongi setidaknya 26 nama tokoh yang diduga terlibat. Krisna mengklaim, nama-nama yang akan diungkap Sony meliputi kepala daerah seperti bupati dan gubernur, serta pejabat legislatif dan eksekutif.
“Pokoknya kan banyak ya legislatif, eksekutifnya juga banyak, terus bupati, gubernur, banyak. Mereka (tokoh-tokoh tersebut) adalah sosok terkenal. Nanti dia akan sampaikan sendiri terkait orang-orang itu,” pungkasnya.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Kejaksaan Agung maupun Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, belum memberikan tanggapan resmi terkait pengakuan yang dilontarkan oleh pihak Sony Sonjaya tersebut.