
SUBANG – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mulai dirasakan pelaku usaha elektronik di Kabupaten Subang. Sejumlah pedagang mengaku daya beli masyarakat menurun dan khawatir harga produk elektronik maupun gadget akan mengalami kenaikan dalam waktu dekat.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah spot dibuka melemah pada perdagangan Kamis (28/5/2026). Pada pukul 09.01 WIB, rupiah berada di level Rp 17.857 per dolar AS atau melemah 0,31 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi Rp 17.801 per dolar AS.
Kondisi tersebut berdampak pada penjualan produk elektronik di Pasar Pujasera Subang. Karyawan Naga Elektronik Subang, Yayan, mengatakan penurunan daya beli masyarakat mulai terasa sejak nilai tukar rupiah terus tertekan.
“Sejak rupiah berada di kisaran Rp 17.801 per dolar AS, penjualan produk elektronik menurun. TV, AC, kipas angin, kulkas dan produk lainnya sepi peminat. Kalaupun ada yang membeli, jumlahnya sangat sedikit,” ujar Yayan, Sabtu (30/5/2026).
Menurutnya, masyarakat kini lebih memilih menahan belanja barang elektronik karena khawatir terhadap kondisi ekonomi dan potensi kenaikan harga.
Dampak serupa juga mulai dirasakan sektor penjualan gadget. Karyawan Nisa Cell Subang, Yulia, mengatakan pelemahan rupiah berpotensi memicu penyesuaian harga pada produk smartphone, terutama yang masih bergantung pada impor.
“Kemungkinan kenaikan harga pasti ada, terutama untuk produk impor seperti iPhone dan beberapa smartphone lainnya,” kata Yulia.
Meski demikian, hingga saat ini pihaknya belum melakukan penyesuaian harga karena masih menjual stok lama yang diperoleh sebelum nilai tukar rupiah melemah lebih dalam.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Elektronik (Gabel), Daniel Suhardiman, menyebut industri elektronika nasional masih menghadapi tantangan besar akibat tingginya ketergantungan terhadap bahan baku dan komponen impor.
“Pelemahan rupiah tentu menjadi beban tambahan bagi industri. Di sisi lain, kami masih berjuang menghadapi kenaikan harga material dan komponen yang cukup signifikan,” ujar Daniel.
Ia menjelaskan, sekitar 60 persen rantai pasok industri elektronika nasional masih bergantung pada impor karena keterbatasan ketersediaan komponen dari dalam negeri.
“Sebagai informasi, rantai pasok industri elektronika saat ini sekitar 60 persen masih bergantung pada impor karena ketidaktersediaan di dalam negeri,” tambahnya.
Dengan kondisi tersebut, pelaku usaha memperkirakan tekanan terhadap harga produk elektronik berpotensi meningkat apabila nilai tukar rupiah terus melemah dalam beberapa waktu ke depan. Selain berdampak pada biaya produksi dan distribusi, pelemahan rupiah juga dinilai dapat semakin menekan daya beli masyarakat.