Lompat ke konten
logo info aktual subang
Ads.
Home » Plastik Melejit, Pelaku Usaha Laundry di Subang Naikan Tarif 

Plastik Melejit, Pelaku Usaha Laundry di Subang Naikan Tarif 

  • oleh

foto :ist

SUBANG – Dampak eskalasi konflik di Timur Tengah mulai merambah ke sektor usaha mikro di daerah. Di Subang, para pelaku usaha laundry terpaksa menaikkan tarif jasa menyusul lonjakan harga plastik pembungkus yang mencapai lebih dari 50 persen.

Tari( 44 ) mengungkapkan bahwa kenaikan harga plastik terjadi secara mendadak dan sangat membebani biaya operasional.Pemilik usaha Rara Laundry ini pun akhirnya menaikan tarif untuk jasa laundry nya.”Harga plastik untuk membungkus pakaian naik drastis. Dulu sekitar Rp30.000 per pak, sekarang sudah Rp54.000, bahkan ada yang menyentuh Rp65.000. Jadi wajar jika kami akhirnya menaikkan tarif laundry,” ujar Tari, Minggu 5 April 2026.

Kenaikan biaya operasional ini langsung berdampak pada kantong konsumen. Wahyudi (35 ), salah satu pelanggan laundry, mengaku harus merogoh kocek lebih dalam untuk jasa cuci pakaian harian.” Biasanya untuk paket reguler Rp5.000 – Rp8.000 perkilogram, sekarang naik menjadi Rp7.000 – Rp10.000.Sedangkan untuk paket ekspres yang biasanya perkilogram nya Rp10.000 kini menjadi Rp15.000,” katanya.

Diketahui, kenaikan harga plastik dipicu oleh terganggunya jalur distribusi ekonomi global di Selat Hormuz akibat konflik Timur Tengah. Wilayah tersebut menyumbang sekitar 25 persen bahan baku plastik dunia.

Menteri Perdagangan, Budi Santoso,belum lama ini menyatakan bahwa industri plastik dalam negeri masih sangat bergantung pada pasokan impor, terutama untuk bahan baku jenis Naphta.

“Bahan baku plastik salah satunya adalah Naphta. Sebanyak 60 persen Naphta kita impor dari Timur Tengah. Jadi, kita terdampak langsung karena ketergantungan impor tersebut,” jelas Budi.

Guna menekan dampak yang lebih luas,Budi melanjutkan, Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Perdagangan mulai menjajaki sumber alternatif di luar kawasan Timur Tengah.

Beberapa negara yang menjadi target diversifikasi impor bahan baku plastik antara lain India, Amerika Serikat dan negara di kawasan Afrika.”Langkah ini diharapkan dapat menstabilkan pasokan bahan baku di pasar domestik sehingga harga produk turunan plastik dapat kembali normal,” kata Mendag.