
Infoaktual – Keberadaan sejumlah bangunan Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih belakangan ini mencuri perhatian dan menuai sorotan tajam dari masyarakat. Hal ini lantaran beberapa unit koperasi dibangun di lokasi yang dinilai tidak lazim dan jauh dari pemukiman warga, mulai dari berdampingan dengan area pemakaman umum hingga berdiri di tengah tambak ikan.
Salah satu lokasi yang viral di media sosial berada di Kelurahan Tegalgunung, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Bangunan Kopdes Merah Putih di wilayah tersebut menjadi buah bibir publik karena lokasinya yang berdiri di samping area pemakaman umum warga. Keberadaan gedung yang berdempetan dengan kompleks kuburan ini sempat memunculkan beragam tanggapan dan keheranan dari warga setempat.
Tak hanya di Blora, sorotan serupa juga terjadi di Desa Langgenharjo, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati. Di desa tersebut, bangunan Kopdes Merah Putih justru dibangun di area yang terisolasi, yakni di tengah-tengah tambak ikan dan berdampingan dengan embung desa. Warga sekitar pun mempertanyakan efektivitas dan asas manfaat dari koperasi tersebut karena lokasinya dinilai terlalu jauh dari pusat aktivitas masyarakat sehari-hari.
Menanggapi riuh kritikan masyarakat tersebut, Menteri Koperasi Ferry Juliantono angkat bicara. Ferry menegaskan bahwa berdasarkan hasil peninjauan dan evaluasi yang dilakukan kementeriannya, kasus lokasi koperasi yang tidak ideal tersebut hanya sebagian kecil saja.
Menurut Ferry, dari sekitar 30.000 titik Kopdes Merah Putih yang direncanakan dibangun di seluruh Indonesia, jumlah lokasi yang bermasalah atau menjadi sorotan publik di media sosial tidak sampai 10 titik.
“Saya sudah hitung dari semua masukan masyarakat atau yang ada di sosial media, jumlahnya kurang dari 10 dari 30.000 (Kopdes Merah Putih),” ujar Ferry saat memberikan keterangan di Kantor Kementerian Koperasi, Jakarta, Kamis (2/7/2026).
Ferry memaparkan, pada tahap awal program ini, pemerintah menargetkan pembangunan sekitar 30.000 unit Kopdes Merah Putih. Dari target tersebut, perkembangan di lapangan menunjukkan progres yang cukup masif.
Tercatat sebanyak 14.000 unit bangunan koperasi telah rampung 100 persen. Sementara itu, sekitar 23.000 unit lainnya saat ini masih berada dalam proses konstruksi dan pembangunan di berbagai wilayah.
Meski jumlah lokasi yang dipersoalkan tergolong sangat kecil dibanding total keseluruhan proyek, Ferry memastikan pemerintah tidak akan tinggal diam. Kementerian Koperasi tetap akan menerjunkan tim untuk melakukan proses verifikasi serta validasi secara langsung ke lokasi-lokasi yang menjadi keluhan warga tersebut.
Langkah verifikasi ini, lanjut Ferry, sangat penting dilakukan guna memastikan secara objektif apakah lahan dan lokasi yang digunakan tersebut memang benar-benar tidak ideal bagi perputaran ekonomi warga, ataukah sebenarnya masih dalam kategori layak digunakan dengan pertimbangan teknis tertentu.
Pemerintah berjanji akan terus mengevaluasi pelaksanaan program strategis ini agar kehadiran Kopdes Merah Putih benar-benar dapat menyentuh dan menggerakkan urat nadi perekonomian masyarakat pedesaan secara efektif.