
foto : dr.Indriati Oetama
SUBANG – Dinas Kesehatan ( Dinkes) Subang menemukan 140 kasus suspek (terduga) campak.Temuan tersebut hanya dalam waktu sebelas hari,dimana Dinkes diberbagai wilayah meningkatkan kewaspadaan terhadap kasus campak.
” Kasus terduga Campak ada 140 kasus,” ujar Kepala Bidang P2P Dinkes Subang dr Indiarti Oetama, Jumat 27 Maret 2026.
Ia menjelaskan, campak adalah penyakit virus yang sangat menular dan berbahaya, berpotensi menyebabkan komplikasi serius hingga kematian. Bahaya utamanya meliputi pneumonia (radang paru), diare berat/dehidrasi, infeksi telinga, radang otak (ensefalitis), kebutaan, serta keguguran atau persalinan prematur pada ibu hamil. Oleh karena itu pada tanggal 9-12 Maret 2026 dilakukan Imunisasi kejar serentak untuk campak dengan sasaran usia 9 – 59 bulan yang belum di imunisasi campak. ” Sasaran kita 4.183 anak dan 95% terimunisasi,” jelasnya.”Pastikan anak mendapatkan imunisasi Campak Rubela sesuai jadwal, pada usia 9 – 18 bulan, berikan nutrisi seimbang, perkuat imun tubuh, dan jauhkan penderita campak dari ibu hamil,” sambungnya.
Diketahui, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) buka suara terkait kabar meninggalnya dokter berinisial AMW (26 tahun) karena terkena campak pada Kamis (26/3/2026). Saat mengembuskan napas AMW sedang bertugas sebagai dokter internship di RSUD Cimacan, Cianjur, Jawa Barat.
“Berdasarkan hasil investigasi sementara, pasien mengalami penyakit campak dengan komplikasi pneumonia yang memperburuk kondisi kesehatannya. Pihak RSUD Cimacan telah melakukan penanganan medis sesuai standar pada 26 Maret 2026,” kata Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman.